Pengeboman di Arab Gunakan Pesawat Drone

Semakin Mencekam, Pengeboman di Arab Gunakan Pesawat Drone

Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan hasil udah jadi satu obyek yg serius dikaji. Akan tetapi masih ada yg berkesimpulan salah berhubungan AI. Hal semacam itu diungkapkan oleh Ahli Computer dan Biologi Komputasi TED Fellow Luke Hutchison dalam acara CSIS Global Dialogue 2019 di Jakarta pada Senin (16/9) .

Dia berikan contoh artikel di majalah Digemari banyak orang Science, majalah yg mengkaji lebih kurang sains dan technologi. Menurutnya, artikel-artikel yg tertuliskan dalam majalah itu seperti cicipi AI jadi satu yg berdampak dan bisa jadi liar.

“Apa yg udah saya baca dalam majalah bakal saya ujar reportase tidak ada tanggung jawab. Namun hal semacam itu menarik dikarenakan memang pergantian AI cepat dan relatif baru. Haruskah kita risau? ” ujarnya.

Luke menuturkan apabila memang satu waktu satu AI bisa lepas dari kendali manusia. Ini dinamainya AI Spring, sama seperti Arab Spring.

“Itu mungkin terjadi. Saya udah kerja dengan sejumlah ratus orang cerdas namun cuman segelintir yg mendalami cukup dalam bagaimana AI kerja, ” katanya.

Walaupun demikian, Luke menuturkan apabila kala satu pengembang bakal mencoba coba AI-nya, AI itu bakal lebih dahulu lakoni serangkaian tes.

Menanggapi ini, sejumlah pengembang udah menempatkan artificial stupidity (AS) . AS dapat membantu AI yg kuat dan serba tahu jadi dapat berikan jawaban seperti manusia biasa. Kapabilitas AI jadi diturunkan.

Selain itu, hingga saat ini, masih ada permasalahan-permasalahan yg AI belum bisa sudahi. Ada empat, ialah penyelesaian masalah pragmatis, pengambilan keputusan dengan bijak, kesadaran bakal penilaian orang, dan kesadaran diri.

“AI tak melakukan seluruhnya dikarenakan mereka kerja cuman cuma regresi statistik. Sayangnya kita jadi berikan mereka tanggung jawab yg butuh ke-4 itu. Menyetir umpamanya, ” kata Luke.

Luke berikan contoh dengan tabrakan mobil tidak ada pengemudi dari Tesla. Diantara satu pengguna, Walter Huang, meninggal dunia pada Maret tahun tempo hari dikarenakan menabrak pemisah jalan.

Hati-hati Juta-an Bakteri Pada Keyboard Pc

“Tesla mengemukakan apabila pengemudi miliki kesempatan lima detik dan 150 mtr. sebelum menabrak namun data beri pengemudi tak melakukan apa-apa. Tidaklah itu berarti Tesla miliki kesempatan lima detik dan 150 mtr. buat mobil otomatisnya melakukan satu? ” tegas Luke.

Buat Luke, masalah yg masih kurang ditegakkan di dunia AI merupakan tanggung jawab pengembang. Lulusan MIT dan Harvard itu mengaku belumlah sempat ada kelas perihal tanggung jawab dan etika pengembang selama menempuh pendidikannya.

“Bahaya AI yg sesungguhnya bukan AI jahat yg lepas dari kontrol manusia namun AI yg tak kompeten atau yg dimanfaatkan manusia buat arah jahat, ” lanjut Luke.

Kepercayan terlalu berlebih, menurut Luke, jadi segi besar dari pengembang. Mereka dijelaskan buru-buru jual produk AI-nya tidak ada memposisikan sistem keamanan yg prima.

Setelah itu, manusia udah memanfaatkan selangkah dengan AI buat sebarkan hoaks dan disinformasi dengan technologi deepfakes dan akun-akun robot di jejaring sosial terutama dekati pemilu. Setelah itu, kesetimbangan pada privasi dan keamanan kerap buyar kala AI turun tangan buat melakukan pengintaian dan pengumpulan data.

Meski begitu, buat Luke, AI bukan berarti cuman disaksikan sinis namun disaksikan produktif. Dia beri gagasan Intelligence Augmentation (IA) ialah memanfaatkan AI jadi alat partisan kemampuan otak manusia.

“AI dapat membantu manusia hingga tujuan-tujuan besar dalam kehidupannya seperti mengautomasi pekerjaan repetitif, mengoptimalkan meeting, dll. AI bisa membantu kita menyortir, menelaah, dan memvisualisasikan data besar. AI udah membantu kita buat buat keputusan cepat seperti memproduksi teks dan sejumlah kata, menelaah objek dengan kamera, meramalkan, dll, ” ujar Luke.

Luke memberikan pesan untuk selalu mengedukasi diri dan jangan cuman turuti kesenangan sebatas. Pengembang diperlukan buat yakinkan produknya aman, efektif, tak menyakiti orang apabila tidak sukses, dan tak jual atau menjanjikan produknya sangat berlebihan.

“Kemampuan dari otak manusia dan mesih tetap lebih unggul kala menyatu, bukan kala diantara satu kerja sendiri, ” tutup luke.

Posted in Berita and tagged , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *